Selasa, 13 Juni 2017

Hambar



Saat kesedihan dan kebahagian dipertemukan apa yang dapat kamu rasakan?

Jika itu aku, rasanya seperti hambar, ada hampa ada bahagia seperti permen yang rasanya tak Kau inginkan

Seperti lagu kesukaan yang terus diputar awalnya menyenangkan kemudian menjadi membosankan

Ada sebagian orang yang sudah terbiasa dengan rasa hambar, sampai lupa dengan rasa lain hanya hambar yang terasa



Rabu, 24 Mei 2017

Sunyi yang tak diinginkan

Sunyi yang diinginkan merujuk pada salah satu kutipan project novel saya yang judulnya Sticky notes about us. Pada dasarnya mimpi saya itu sederhana, saya mau berangkat kerja menaiki sepeda di pagi hari tanpa harus melihat kemacetan seperti di jakarta, menghirup udara segar di pagi hari sambil menikmati pemandangan kebun karet misalnya atau jajaran pohon jati yang menjulang tinggi yang jelas jangan sampai itu pemandangan kebun sawit. Dalam tulisan saya kali ini, saya akan cerita dimana saya menemukan sebuah tempat yang cukup tenang, rapi yang sesuai di kepala saya kemacetan tidak separah di jakarta masih banyak pohon bahkan suhu disana masih 27 derajat untuk ukuran sebuah kota.

Siang itu saya sedang berbincang-bincang dari A-Z dengan saudara laki-laki saya, ketertarikan saya pada bidang pendidikan memperkenalkan saya pada komunitas ini, Ya komunitas ini mengadakan jalan-jalan sambil mengajar. Saya sangat tertarik apalagi waktu saya lihat kali ini acaranya akan ke perbatasan indonesia-malaysia (Entikong-Kalimantan Barat) dengan tekad 100% modal, 30% saya nekad mengikuti acara ini.

Kamis malam tanggal 27 April 2016 
Saya menyiapkan semua keperluan untuk dibawa ke entikong, termasuk beberapa potong pakaian layak pakai yang tidak saya pakai untuk orang-orang disana, kemudian teringat bahwa akan ada games yang diadakan selama mengajar disana, saya mengajar anak kelas 1 bagian bangun datar. Ini bukan merupakan keharusan untuk membawa tambahan hadiah tapi saya memang ingin menambahkan hadiah dari saya sendiri, saya putuskan untuk membawa hadiah tambahan celengan supaya bisa bermanfaat dan jadi kenang-kenangan untuk mereka.

Jumat 28 April 2016
Saya tiba dibandara pukul 18:00 keberangkatan pesawat pukul 19:00 ke pontianak, saya dengan peserta lain yang jumlahnya 17 orang menaiki pesawat selama 1 jam 30 menit, sampai di bandara untuk ke entikong memerlukan waktu kira-kira 6 jam kami menaiki mobil untuk sampai kesana.

Sabtu 30 April 2016
Setelah mandi dan sarapan kami meneruskan perjalanan menuju sekolah di kabupaten nolan, untuk sampai kesekolah itu kami menaiki truk pasir karena jalan yang kami lewati berbatu dan banyak yang rusak, sekeliling jalan menuju sekolah itu pun di tumbuhi kelapa sawit, perkebunan itu bukan milik indonesia menurut pengakuan supir dan warga sekitar yang juga ikut dengan rombongan menuju sekolah itu, yang meminjamkan rumahnya untuk disinggahi sementara. "Perkebunan sawit ini bukan milik kita sebagian besar milik negara tetangga, cuma buruhnya orang  kita" begitu kata warga yang menemani kami. Perjalanan memakan waktu kira-kira 2 jam. Setelah sampai di sekolah itu kami disambut anak-anak itu dengan penuh semangat, bahkan mereka membantu kami membawa perlengkapan untuk mengajar dan baju layak pakai. Menurut saya ukuran tubuh mereka mungil-mungil, lucu walaupun kulitnya tidak putih seperti  warna tembok atau warna tahu kulit badan mereka bersih karena cuaca di kalimantan barat ini benar-benar terik. 

Ini bentuk bangunan sekolah untuk kelas 1 ada bangunan lain lagi dari kelas 2-6 SD kurang lebih hampir sama bahkan dalam 1 kelas tebagi 2 kelas tanpa sekat jadi dua larik sebelah kanan kelas 2, 2 larik sebelah kiri kelas 3 saya tidak bisa menjelaskan secara banyak karena bagian kelas 2 kebelakang teman saya yang mengajar.

Sesi pertama di kelas 1 adalah pngenalan jenis-jenis olahraga dari bulutangkis, renang, tenis, voli anak-anak menjawab antusias bahkan mereka tanpa malu-malu mengacungkan tangan untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh kakak-kakak yang mengajar di depan kelas. Kemudian tiba bagian saya memperkenalkan bangun datar pada anak-anak. Saat saya tanya "Halo Adik-adik gimana kabarnya? Masih semangat kan belajarnya, kakak mau ajarkan ke kalian tentang bangun datar nih, kalian sudah belajar tentang bangun datar belum?" Mereka hanya diam hahaha, tapi waktu saya kasih bentuk-bentuk bangun datar dan suruh mereka tebak, sudah banyak yang bisa untuk bangun datar sederhana seperti persegi, lingkaran dan segitiga.


kemudian saya perkenalkan bentuk lain seperti jajargenjang, trapesium, persegi panjang, segilima dan saya buatkan games untuk mereka, kemudian saya lihat lagi antusias dan keberanian mereka dalam mengemukakan pendapat, walau dengan keterbatasan mereka tetap semangat menuntut ilmu.

Selesai sesi megajar saya, dilanjutkan sesi mengajar teman saya, jadi dalam satu kelas dibagi bebearap orang karena kelas 1 paling banyak murudnya yaitu 30 orang jadi ada 4 kakak di sini.Setelah acara ajar mengajar selesai di dalam kelas, kemudian untuk penutupan acara semua anak dikumpulkan di lapangan untuk berfoto.

Setelahnya kami makan bersama dengan para guru disana, sambil makan kami berbincang-bincang dengan salah seorang guru, guru tersebut mengenai listrik yang belum masuk kedalam desa nolan ini, kebetulan dalam tim kami ada yang bekerja di PLN jadilah percakapan seperti ini.
"Oh jadi disini belum masuk listrik, Pak?"
"Iya betul belum masuk"
"Apa kepa desa sudah mengajukan ke pihak PLN, Pak?" (Jadi ada prosedur kalau pasang listrik di suatu daerah salah satunya pengajuan dari kepala desa setempat)
"Sudah bu, sudah dari beberapa tahun yang lalu, tetapi belum juga dipasang. Sebenarnya waktu itu sudah mulai dipasang tapi baru satu tiang listrik doang kabelnya nggak dipasang-pasang malah sekarang tiangnya udah pada gompal-gompal bu"
"Oh begitu pak, terus selama ini listriknya gimana pak?"
"Kami pakai listrik tenaga air terjun sama surya paling mba atau genset, tapi jadi terbatas juga"

 Dalam hati buseet ini orang lebih keren dan lebih buang waktunya dengan cari alternatif listirik karena keterbatasan listrik yang belum masuk ke desa mereka, jadi lebih bersyukur aja ternyata banyak hal yang saya keluhkan dalam hidup saya belum ada apa-apanya sama yang mereka hadapi sehari-hari, itu hal yang sering saya temui waktu kuliah, kalau anak rantau lebih giat, lebih tekun belajarnya ya karena mereka sudah biasa menghadapi dan menikmati keterbatasan.

Kemudian pertanyaan meluncur dari mulut saya untuk menanyakan kepada orang dalam tim kami yang bekerja di PLN tentang solusi apa yang sebaiknya di berikan.

"Jadi sebagai pegawai PLN, kakak bisa kasih solusi gimana?"
"Ya solusinya kepala desa, pengusaha sawit, PLN, Pemerintah harus duduk bersama, karena masalahnya disepanjang jalan ini di kelilingi kelapa sawit dan untuk memasang tiang listrik dan kabel harus memotong kelapa sawit itu sendiri nggak semudah membalikkan telapak tangan, karena biasanya pengusaha kelapa sawit sendiri mematok harga mahal untuk tiap satu saja pohon kelapa sawit yang di tebang"
"Kakak nggak bisa tolong bilang ke atasannya ?"
"Semua ada prosedurnya, temasuk kepala desa sudah melaporkan untuk pemasangan listrik itu sudah benar, masalahnya mengumpulkan pihak-pihak terkait menjadi itu yang sulit"
"Ya mohon sabar ya pak, saya akan bicarakan diskusi kita hari ini kepada atasan saya dikantor nanti" sambung kakak yang bekerja di PLN kepada guru yang bercerita mengenai belum masuknya listrik di desa ini.

Setelah selesai mengajar di SD tersebut kami langsung meluncur ke kuching, Malaysia. Selama di perjalanan supir kami bercerita banyak mengenai perkembangan infrastruktur di entikong ini. Menurutnya di jaman pemerintah ini infrastruktur sudah jauh lebih baik.

"Oh iya pak, sekarang jalannya menuju ujung perbatasan sudah bagus, sudah diperlebar, ini bapak bisa lihat sendiri, sebelumnya banyak yang rusak pak, jalannya juga setapak, sudah banyak perubahan di pemerintahan ini pak" begitu cerita bapak supir dengan teman laki-laki kami yang diduduk didepan

"Tapi tadi masih ada jalan yang jelek pak? tadi masuk jalan mau ke SD juga masih jelek pak

"Begini sih pak sebenarnya, jalan-jalan yang lebih dulu dibenarin yang kena sidak atau kena pantau pak presiden, mungkin harusnya pak presiden lewatin semua jalan disini pak biar di benarin semua, ya biasa pak takut kenal omel jadi mungkin sementara yang dilewati presiden yang dibenarin dulu untuk jalan-jalan pedalaman menyusul pak, tapi saya akui infrastruktur disini sudah jauh lebih baik pak, termasuk perbatasan kita yang tadinya kayak kandang ayam dan hanya berupa patok sekarang sudah dibangun rapi, nanti bapak bisa lihat sendiri"

Tak lama kami sampai di bangunan yang diceritakan bapak tadi, waktu saya masuk di dalam kawasan ini satu hal yang saya pikirkan "agak berlebihan untuk bangunan perbatasan" tapi setelah saya pikirkan kembali ini merupakan bentuk kedaulatan RI yang langsung bersebelahan dengan negara tetangga yang suka klaim punyanya indonesia, Jadi anggapan agak berlebihan saya hapuskan dan saya gantikan menjadi bahwa ini salah satu klaim kedaulatan indonesia dan jangan macam-macam sama indonesia.

Perjalanan kami lanjutkan setelah masuk ke wilayah negara tetangga ada sedikit perbedaan yaitu hutan mereka masih penuh jarak antara satu rumah kerumah lainnya ada 1 km mungkin, saya suka sunyi tapi bukan keadaan rumah berjauhan seperti ini, kemudian terus berjalan sampai akhirnya sampai di kuching kota kecil, yang mobilnya juga mini-mini, kota ini tenang. Saat malam saya lihat dari hotel tempat saya istirahat sepertinya bakalan enak tinggal disini, disini tenang, kemacetan nggak bikin sakit kepala kayak di jakarta. Berberapa lama di balkon memerhatikan mobil-mobil mini itu berlalu-lalang malah membuat saya menyadari bukan ketenangan seperti ini yang saya cari, saya lebih suka ketenangan entikong menuju negara ini, tenang yang berbeda tenang yang lebih manusiawi begitu saya menyebutknya ternyata saya sangat cinta indonesia, cinta tempatnya, cinta budayanya, cinta orang-orangnya, cinta lagu-lagunya semua tentang indonesia yang selalu tertuju sebagai tempat "Pulang".

Semoga Indonesia bisa lebih maju dalam segala hal terutama pendidikan



Sekian cerita saya tentang perjalan saya menuju entikong, menikmati udara di kuching dan pulang kembali ke
Indonesia :)

Minggu, 22 November 2015

Nasi lengko

Nasi lengko

Haloo readers saya hanya ingin share mengenai salah satu makanan khas kalau kita ke cirebon, Ya ini dia nasi lengko. Nasi lengko terdiri dari nasi, ditaburi tauge, irisan timun yang dicacah, kucai, bawang goreng, tahu tempe yg di potong kecil-kecil, sambal kacang kental yang pedas.
Makanan khas cirebon ini mengandung banyak protein bisa dilihat sebelumnya ingredients dari nasi lengko tidak ada yang mengandung hewani.


biasanya pelengkap dari nasi lengko ada sate kambing tergantung selera tetapi kalau saya lebih suka makan nasi lengko saja. Jangan sampai lupa untuk menambahkan kecap ke nasi lengko. Kareana kecap yang ada di warung nasi lengko tempat saya makan itu enak. 

Nah ini dia kecap yang menurut saya enak setelah kecap kesukaan saya *an**u, kecap buatan sendiri asli cirebon kalau kata teman saya yang asli cirebon walaupun kecap ini tidak begitu kental tetapi kalau kalian siramkan kecap ini di atas nasi lengko hmmmm yummy lengkap enak deeehhh. Biasanya juga di warung nasi lengko di jual tahu gejrot. Kalian sudah pada tahu belum kalau ternyata tahu gejrot itu berasal dari Cirebon, mungkin sebagian tahu ya , hehehe. Tahu gejrot buatan Cirebon asli rasanya lebih yummy daripada yang di jakarta menurut saya sih, tetapi tidak tahu juga ya mungkin karena waktu itu saya sedang kelaparan kali ya. Hehehe. Setelah makan nasi lengko saya makan tahu gejrot ini dan saya ambil beberapa gambarnya. 
Jadi kalau kalian ke cirebon mari di coba nasi lengko cirebon ini, enak kok. Selamat menikmati #exploreCirebon #NasiLengko




Minggu, 23 Agustus 2015

Hidup

Apa yang kau cari dalam hidupmu ?

Tentang suatu cita untuk masa depan
atau Perjalanan penuh rintangan

Kehidupan untuk sehari
atau Pengakuan diri

Cinta yg berlimpah
atau Persahabatan yg indah

Kebahagiaan hidup
atau ketenangan hidup

Sebuah kebahagiaan yg kita tidak pernah tahu tolok ukurnya
Katanya ketenangan hidup tapi tak tau bagaimana mencapainya

Kucari-cari tapi tak pernah kutemukan
Terlihat sebuah jalan dengan banyak cabang terhenti dipersimpangan

Dulu kubenci kata-kata jalani saja hidup ini 
Tapi ini akhirnya aku sama dengan kata-kata itu
Aku tak tau akan bagaimana akhir dari semua ini
Hanya terus langkahkan kaki berharap akan ada akhir yg baik bagiku


By Rahcoyoning

Kamis, 13 Agustus 2015

Persimpangan






Aku 


Adalah manusia dipersimpangan
Bingung menentukan arah


Ketakutan dalam situasi yg dibuat sendiri
Sibuk dengan pikiran sendiri 


Bertanya" Benar Jalan ini 
Jalan yg mengantarkanku pada mimpiku.


By Rahcoyoning

Serpihan ungkapan hati tentang hidup







Hidup


Terlihat sulit tetapi mudah
Terlihat mudah tetapi sulit


Apakah kebenarannya? 
Setiap hati Akan tau jawabannya.


Seperti puzzle 


Kau tau bagaimana menyusunnya tapi pura" tidak mengetahuinya
Atau Kau tidak tau menyusunnya tetapi pura" mengetahuinya .


By Rahcoyoning

Impian







Mulai Kehilangan Harapan





Rasanya aku semakin lama semakin jauh dengan impianku
Aku seperti seseorang berumur 40 tahun yg mungkin sudah bukan waktunya berpikir tentang impiannya
Aku kurang berusaha atau terlambat meyadari aku tak cukup pantas untuk itu
Kukejar sampai rasanya aku lelah, kuhukum diriku karenanya


Mungkin ini balasan dari diriku karena aku membuatnya sesak
Tuntutan yg aku lakukan mungkin membuat alam bawah sadarku tersiksa
Aku seperti orang yg kehilangan arah terus bergerak
Tetapi tidak jelas kemana kakiku melangkah, berharap bisa menaklukan dunia


Dunia tidak pernah menjadi kecil jadi berhentilah berkhayal
Kecuali sang pencipta yg membuatnya kecil
Ini bukan mengenai khayalan, jadilah berakal
Karena sang pencipta menciptakan manusia dengan akal pikiran bukan seperti hewan, maka manusia itu spesial

By Rahcoyoning